Dilema Tema Umum Selatan

Ada beberapa tema umum dalam sastra dari negara-negara tertentu yang terus-menerus ditulis (dan diterjemahkan). Dari pandangan pembaca berbahasa Inggris, tema-tema ini seolah mewakili negara asal penulisnya. Di Indonesia, tema itu adalah pembantaian massal 1965-1966 (beberapa karya tentang ini yang baru diterjemahkan ke bahasa Inggris adalah Home oleh Leila Chudori, The Question of Red oleh Laksmi Pamuntjak, dan, yang sedikit menyentuh tentang ini, The Beauty is Wound oleh Eka Kurniawan). Atau mungkin tentang “kediktatoran” di novel-novel Amerika Latin atau “kelaparan dan kemiskinan” dalam novel-novel Afrika. 

Kita harus berhadapan dengan bagaimana dunia Barat melihat kita dan bagaimana kita melihat diri kita sendiri dalam isu ini. Contohnya, pada 2014, ada artikel lucu di The Atlantic tentang alasan di balik buku-buku tentang Afrika punya siluet pohon akasia yang sama di sampulnya. 

https://www.theatlantic.com/international/archive/2014/05/why-every-book-about-africa-

has-the-same-cover/362101/

Tentu ini bukan hanya karena kemalasan dari perancang atau penerbit buku, tapi juga pandangan “Orientalis” akan penggambaran tentang Afrika. Ini yang dimaksud dengan “jebakan tema umum”. Kenapa pola ini terus berulang? Apakah ini kutukan atau berkah?

 

Pembicara :
Legodile Seganabeng (BOT)
Sharlene Teo (SGP)
Intan Paramaditha (IDN)

Moderator :
Nukila Amal (IDN)

Tanggal

24 Agustus 2019

Jam

10:30 - 12:30

Lokasi

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat
Kategori

Cuaca

31 °C
Angin: 17 KPH
Kelembaban: 1 %
Jarak Pandang: 7 KM
X
QR Code
0 komentar

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2020 JILF - Jakarta International Literary Festival